top of page

Tuhan, Dimanakah Engkau?

Oleh Joshua dari Amerika Serikat

Saat itu pukul dua belas siang pada hari Minggu di rumah mertua saya, hari itu adalah hari ulang tahunnya, dan dia sedang sibuk memasak brisketnya yang terkenal. Istri saya berada di dalam menghabiskan salad kentangnya sementara saya sibuk membantu paman saya dengan TV nya. Makanan hampir siap sehingga anak-anak bergegas keluar bersama nenek dan kakek mereka.

Sekarang izinkan saya mengatakan, kita adalah tipe yang tidak pernah membiarkan anak-anak kita lepas dari penglihatan kita dan berisiko menyebabkan hal-hal yang tidak diinginkan. Tetapi apa yang kita takutkan, terjadi. Saya selalu mendengar tentang kecelakaan mengerikan di keluarga lain, tetapi TIDAK PERNAH saya menyangka itu bisa terjadi pada kita.

Saat sedang memperbaiki TV paman saya, nenek Noah membuka pintu dan menangis histeris sambil berkata, "Noah jatuh ke kolam!" Jantungku berdegup kencang saat bergegas menuju keluar. Semuanya terasa seperti dalam gerakan lambat. Saya berteriak mencari anak saya, "Noah, Noah!"

Saat keluar, saya melihat kerumunan orang berlutut di sekelilingnya. Anak saya seakan-akan tidak bernyawa dan memucat; Saya menyaksikan tubuh kecilnya memantul di tanah ketika ayah mertua saya menekan dada mungilnya. Berkat istri saya, saya kemudian mengetahui bahwa dia dapat mengeluarkan air dari paru-parunya dan mendapatkan denyut nadi sebelum saya sampai di sana, tetapi kompresi dada harus dilanjutkan karena dia belum dapat bernapas sendiri.

Saya telah melihat mukjizat dan tidak meragukan kuasa Tuhan, tetapi saya harus jujur, sampai hari itu saya belum pernah merasakan kehadiran Tuhan secara fisik, setidaknya belum cukup untuk mengetahui secara pasti. Selama dua tahun saya menghabiskan sebagian waktu saya berseru kepada Tuhan, "Tuhan, di mana Engkau berada?"

Pada waktu kecil, saya ditolak oleh Ayah saya sendiri, jadi saya pikir ini tidak ada bedanya. Saya tidak yakin saya akan mendapatkan jawaban atas pertanyaan saya.

Pada awal kejadian, reaksi saya adalah reaksi yang wajar. Saya tersungkur di depan tempat kejadian dan menolak untuk menerima malapetaka yang menimpa putra saya. Tiba-tiba, kedamaian yang tak terlukiskan menyelimuti saya. Saya tidak dapat memberi tahu Anda mengapa saya melakukan apa yang saya lakukan, tetapi kata-kata ini mengalir dari bibir saya, “ Terima kasih, Tuhan Bapa karena telah mengembalikan Noah kepada kami!”.

Saya mengklaim kemenangan! Tetapi pada saat yang sama, pikiran manusiawi saya bertanya, "Apa yang kamu katakan, dia sudah mati dan kamu berterima kasih kepada Tuhan?"

Sekali Lagi, “Terima kasih Tuhan Bapa karena menghembuskan nafas hidupmu ke dalam tubuh putra saya, dalam nama Yesus!”

Pada saat itulah Noah kembali bernafas. Seakan-akan Tuhan berkata kepada saya, "apakah kamu lihat, bahwa Saya selalu bersamamu selama ini?"

Sekarang saya seutuhnya percaya bahwa Tuhan tidak menolak hubungan pribadi dengan saya. Melalui proses pemulihan Noah, Tuhan telah memberi kita kedamaian yang luar biasa. Setelah hari pertama, dokter tidak yakin akan adanya kerusakan otak. Beberapa malam berikutnya adalah perpaduan antara menegur iblis tentang kebohongannya bahwa Noah tidak akan sama lagi dan memuji Tuhan atas kemenangannya yang berkelanjutan. Pada hari ketiga, Noah kembali ke dirinya yang dulu yang selalu tersenyum, penuh energi.

3 views0 comments

Recent Posts

See All

EDISI RENUNGAN

Pertama kali saya memulai pekerjaan ini karena terinspirasi oleh kesaksian-kesaksian kristiani yang saya baca atau dengar. Begitu sering kasih dan kebaikan Tuhan tersampaikan dari setiap testimoni ter

Comments


bottom of page